Sudah hampir setahun saya menggunakan sepeda lipat sebagai alat transportasi utama (sebelumnya saya pengguna sepeda gunung). Sehari-hari saya biasa bersepeda ke kantor di Kopo yang berjarak sekitar 12.5 kilo meter dari rumah di Riung Bandung. Jarak tersebut membutuhkan setidaknya 35 menit jika saya buru-buru (baca: ngebut), tapi biasanya 45-50 menit bisa habis di jalan.Bersepeda di Bandung saya rasakan sangat menyenangkan. Daerah mana saja dapat saya capai dengan waktu yang relatif cepat. Maklum Bandung tidak begitu luas. Lalu lintasnya pun tidak terlalu padat (kecuali Sabtu & Minggu). Saya bisa bersepeda dengan nyaman dipinggir jalan, tidak terganggu oleh hiruk pikuk lalu lintas jalan raya. Paling hanya sesekali ketika saya harus memotong jalan atau menyalip angkot yang berhenti di depan, saya harus lebih berhati-hati agar tidak terlanggar kendaraan dari belakang. Selebihnya saya masih bisa menikmati pemandangan dan suasana sekitar dengan lebih nyaman dibanding ketika saya menggunakan mobil atau motor.
Sampai tujuan, bila menggunakan sepeda gunung, saya biasa mengamankan sepeda saya dengan mengikatkannya ke pagar atau tiang. Kini dengan sepeda lipat saya punya pilihan lain. Sepeda dapat saya lipat dan tenteng ke mana saya pergi. Bila tangan mulai pegal, sepeda saya letakkan tanah untuk didorong. Jadilah sepeda itu lebih sering bersama saya dibanding diam sendiri di tempat parkir.
Kepraktisan sepeda lipat yang paling saya rasakan adalah ketika saya harus sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Saya biasa membawa sepeda lipat saya dengan menaruhnya ke dalam bagasi bus. Turun dari bus, sepeda langsung saya kendarai sampai tujuan. Lumayanlah, dengan begini saya tidak perlu kuatir dengan jadwal angkot yang tidak 24 jam tersedia. Saya jadi bisa pulang ke Jakarta walaupun hari telah larut malam dan tetap sampai tujuan dengan cepat dan aman.
Bersepeda lipat ternyata bisa menarik perhatian banyak orang. Buktinya selalu saja ada komentar yang saya dengar selama menggowes sepeda lipat. Komentar yang paling sering saya dengar datang dari anak-anak, "Sepeda leutik... sepeda leutik...," kata mereka seraya tersenyum (leutik = kecil, pen.). Ha.. ha.. ternyata bagus juga sepeda lipat sebagai sarana untuk mensugesti anak-anak agar suka dengan sepeda. Biarkan saja orang tua mereka kebingungan bila tiba-tiba anaknya minta dibelikan sepeda... :P
Kalau anda berencana untuk bersepeda dengan alasan menghemat biaya, sebaiknya anda berpikir ulang. Pengeluaran transportasi anda memang akan menurun. Tapi di sisi lain, uang makan anda akan membengkak. Sebenarnya ini bukan kekurangan, terutama bagi anda yang hobi makan. Nafsu makan anda akan meningkat karena anda akan sering lapar. Dan seperti yang orang tua saya katakan, makanan yang paling enak adalah yang dimakan ketika lapar. Tapi satu hal yang pasti, apapun alasan anda untuk bersepeda, anda telah berada di jalur yang tepat ketika kaki anda telah mengayuhkan gowesan pertama. :)
Tertarik untuk mulai bersepeda?